Aku dan Mama


Aku dan Mama



Berkali-kali kudengar Mama menghembuskan napas panjang.

Mungkin lelah sebabnya, atau mungkin itu adalah bentuk eluhannya?

Tapi aku tau, Mama tidak pernah mengeluh. Tidak. Meski apa pun yang terjadi. Meski ini yang akhirnya terjadi. Terjadi pada kehidupannya, terjadi pada keluarganya, terjadi pada kehidupan-ku. 


Menanggapi napas panjang yang sudah delapan kali ia hembuskan sejak Isya tadi, aku bernyanyi. Lagu lama yang aku ketahui. Chrisye, Kisah Kasih di Sekolah. Karena aku tahu ia lebih suka bekerja diiringi lagu, dibanding sepi sunyi seperti tadi. Jadi aku bernyanyi, dengan lirik-lirik yang salah, dengan suara yang sumbang, dengan sautan suara denting piring yang sedang kucuci.


Mama sedang membungkus adonan pepes tahu—yang sudah kubuat tadi, dengan daun pisang ketika aku mendengarnya bersiul menyauti nyanyianku.

Setelah nyanyian kami selesai, keheningan kembali mengelilingi kami. Tapi aku tahu, suasana hatinya sudah membaik.



"Bapak, jangan sedih ya melihat Lilik sama Erna jadi seperti ini." bisik Mama pelan, namun telingaku masih bisa menangkapnya. Lilik adalah nama mamaku, sedangkan Erna adalah adiknya yang tinggal di Madiun, bernasib sama sepertinya.



"Bapak siapa?" tanyaku memastikan.



"Bapakku." jawab Mama, menyebut mbah-ku yang sudah lama meninggal.



"Bapak tidak akan sedih melihat Lilik sama Erna begini, justru Bapak bangga karena Lilik sama Erna belum menyerah." kataku yang sudah menyelesaikan cucianku, beranjak mengerjakan kegiatan selanjutnya—memetik tiga ikat daun singkong untuk dibuat pecel.



Kulirik Mama di tengah kegiatanku, kulihat setetes air mata jatuh di pipi keriputnya. Dalam diam aku ikut menangis.
Aku dan Mamaku bukan tipe orang yang mudah mengungkapkan perasaan masing-masing. Jadi inilah yang terjadi, kami berdua berusaha menahan tangis sembunyi-sembunyi, hanya suara sesenggukan kecil yang terdengar.



***



Satu jam setelah kami menyelesaikan pekerjaan kami, Mama langsung tertidur pulas. Biasanya setelah memasak untuk jualan, Mama akan lanjut menjahit pesanan: sprei, baju, apapun itu, sampai dini hari. Namun hari ini Mama tidak sedang menerima pesanan, jadi ia bisa tidur lebih cepat.


Kulihat wajah Mama yang tidur menghadapku. Kulitnya sudah keriput, bintik hitam terdapat di beberapa bagian wajahnya, kantung matanya pun menghitam akibat kurang tidur,  jumlah rambut putihnya mulai menandingi rambut hitamnya. Aku ingat dulu sekali, sebelum Papa pensiun, sebelum kami terpaksa meminjam uang kesana-kemari demi membiayai sekolahku dan kedua kakakku, sebelum Mama jadi harus membuka warung makan, sebelum Mama banyak pikiran, Mama akan selalu menyuruhku mencabut ubannya tiap kali ia menemukan uban baru yang muncul di kepalanya barang sehelai. Namun kini, ia sudah tidak pernah menyuruhku lagi dan membiarkan ubannya tumbuh begitu saja. Kasarnya, ia sudah tidak memikirkan dirinya sendiri.


Kurapihkan rambut Mama yang tidak pernah disisirnya, yang mencuat tidak karuan dari kepala, dan kusisipkan sejumput rambutnya ke telinga.


Kupandangi lama-lama wajahnya. Mulutnya yang sedikit terbuka sehingga menimbulkan dengkuran halus. Ritme napasnya yang teratur—yang tanpa kusadari membuat napasku mengikuti ritmenya. Kuusap pipinya, menyadari betapa besar rasa cintaku padanya, dalam hati kupanjatkan doa.



Oh Tuhan,

biarkan aku melihat

ia tetap selalu sehat,

biarkan aku melihat

ia menjadi Mama yang kuat.




Oh Tuhan,

Hanya ini yang selalu kupinta,

bukan untuk mengurangi bebannya,

bukan untuk menghapus sedihnya,

namun Kau kokohkan pundaknya.






(Ditulis di Bekasi, 25 Pebruari 2018.)

Comments